• Tentang kami
  • Tentang kami
  • Tentang kami
  • Pusat berita
  • Hubungan Investor
  • Karier
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • Produk konsumenProduk konsumen
    • Dukungan konsumen
    • Pendaftaran produk
    • Akun My Philips
  • Tenaga kesehatanTenaga kesehatan
    • Kontak & dukungan
    • Portal layanan pelanggan
    • Pusat sumber daya
  • Solusi bisnis lainnyaSolusi bisnis lainnya
    • Penerangan
    • Automotif
    • Solusi pendengaran
    • Lainnya
    • Solusi tampilan
    • Solusi dikte
  • Tentang kamiTentang kami
    • Pusat berita
    • Hubungan Investor
    • Karier
    • Lainnya
    • Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola
    • Inovasi
  • BerlanggananBerlangganan
    • Informasi terbaru tenaga kesehatan
    • Berita perusahaan & siaran pers
  • Ikuti informasi terbaruIkuti informasi terbaru
    • Pilih negaraIndonesia (Bahasa)
    • Pemberitahuan Privasi
    • Ketentuan penggunaan
    • Pemberitahuan Cookie
    © Koninklijke Philips N.V., 2004 - 2026. Seluruh hak cipta.
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌
    ‌

    Philips Future Health Index 2026: AI meningkatkan kapasitas layanan kesehatan di Indonesia, namun kesiapannya harus ditingkatkan

    • Agu 19, 2026
    • Durasi baca: (time) menit

    Kecerdasan buatan (AI)

    Transformasi digital

    Siaran pers

    Sekilas

    • 69% tenaga kesehatan Indonesia mengatakan alat berbasis AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien, dibandingkan dengan 50% secara global

    • 88% melaporkan peningkatan efisiensi alur kerja, sementara 67% melaporkan penurunan stres

    • 55% mengatakan pelatihan AI sulit didapat, terbatas, atau tidak merata, sementara 94% mengatakan keterlibatan manusia tetap sangat penting

    Jakarta, Indonesia – Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA), pemimpin global di bidang teknologi kesehatan, hari ini meluncurkan Future Health Index 2026 edisi ke-11 untuk wilayah Indonesia. Laporan ini mengungkap bahwa kecerdasan buatan (AI) telah memberikan manfaat nyata bagi tenaga kesehatan, pasien, dan institusi layanan kesehatan di Indonesia.

    Astri Ramayanti Dharmawan berbicara dalam diskusi panel FHI 2026 Indonesia tentang AI yang bertanggung jawab.

    Keterangan foto: Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, berbicara dalam sesi diskusi panel pada media briefing Philips Future Health Index 2026 Indonesia yang mempertemukan perwakilan pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan pemangku kepentingan industri untuk membahas adopsi AI yang bertanggung jawab dalam layanan kesehatan.

    Temuan ini menandai perubahan penting dalam perjalanan penggunaan AI di sektor kesehatan Indonesia. Jika Future Health Index 2025 berfokus pada pentingnya membangun kepercayaan serta menciptakan kondisi yang mendukung adopsi AI, maka laporan tahun ini mengulas bagaimana AI telah memberikan dampak nyata dalam praktiknya. Tenaga kesehatan Indonesia melaporkan alur kerja dan proses diagnosis yang lebih cepat, kapasitas yang lebih besar untuk melayani pasien, akses informasi yang lebih baik, serta berkurangnya tekanan di tempat kerja.

    Meskipun demikian, laju adopsi AI di kalangan tenaga kesehatan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi AI secara aman dan konsisten dalam skala yang lebih luas.

    Laporan ini diluncurkan dalam acara bertemakan AI in practice: Scaling AI for better care in Indonesia atau Penerapan AI: Memperluas adopsi AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Philips di Jakarta bersama para pemimpin dari Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk mendiskusikan tahap selanjutnya dalam adopsi AI yang bertanggung jawab di Indonesia.

    Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien.

    cropped-1200x1200 (3).jpg

    Astri Ramayanti Dharmawan

    Presiden Direktur
    Philips Indonesia

    “Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” ujar Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia. "Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan," tambah Astri.

    AI meningkatkan kapasitas di area yang paling dibutuhkan di Indonesia

    Astri Ramayanti Dharmawan memaparkan temuan FHI 2026 Indonesia tentang AI, kapasitas layanan, dan akses.

    Keterangan foto: Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, memaparkan temuan utama laporan Philips Future Health Index 2026 Indonesia, termasuk bagaimana AI dapat membantu meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, memperluas akses, dan mendukung pemberian layanan yang lebih baik.

    Tenaga kesehatan di Indonesia melaporkan manfaat nyata dari penggunaan AI, terutama yang berkaitan langsung dengan peningkatan kapasitas dan pemberian layanan kesehatan.

    Hampir 9 dari 10 tenaga kesehatan (88%) mengatakan AI telah meningkatkan efisiensi alur kerja, angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan 71% secara global. Sebanyak 87% tenaga kesehatan melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82% mengatakan bahwa AI telah mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis.

    Tiga perempat tenaga kesehatan (75%) melaporkan kemudahan akses terhadap data pasien yang terintegrasi lintas tim medis, dibandingkan dengan 57% secara global. Akses informasi yang lebih baik secara relevan dapat mengurangi waktu yang terbuang untuk mencari data di berbagai sistem dan mendukung keputusan yang lebih terkoordinasi.

    Peningkatan ini mulai berdampak pada kapasitas klinis. Lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan Indonesia (69%) mengatakan alat berbasis AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien, dibandingkan dengan 50% secara global. Di antara mereka yang melaporkan peningkatan kapasitas, median peningkatannya adalah empat pasien tambahan per minggu.

    AI juga membantu tenaga kesehatan mengelola waktu dengan lebih baik. Hampir 6 dari 10 tenaga kesehatan (59%) melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun, setara dengan lebih dari dua minggu kerja penuh. Menurut mereka, hal ini memberikan lebih banyak waktu dan ketenangan untuk menelaah kasus secara cermat, meningkatkan ketepatan kerja, dan fokus pada pekerjaan klinis yang bernilai lebih tinggi.

    Manfaatnya tidak berhenti pada produktivitas. Dua pertiga tenaga kesehatan Indonesia (67%) mengatakan AI telah meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance) mereka, dibandingkan dengan 50% secara global. Proporsi yang sama melaporkan penurunan stres, sementara separuhnya mengaku lebih jarang lembur atau membawa pulang pekerjaan.

    Potensi ini sangat relevan bagi sistem kesehatan Indonesia yang tersebar secara geografis. Lebih dari delapan dari 10 tenaga kesehatan (81%) percaya bahwa AI dapat mempersempit kesenjangan kualitas layanan kesehatan antarwilayah dan meningkatkan layanan bagi masyarakat di wilayah yang kurang terlayani.

    Manfaat finansial awal juga mulai terlihat. Di kalangan pemimpin institusi layanan kesehatan Indonesia, 43% melaporkan penghematan anggaran berkat penerapan AI, dibandingkan dengan 34% secara global, sementara 69% mengatakan manfaat dari investasi terhadap AI yang mereka lakukan telah memenuhi bahkan melampaui biayanya.

    Dalam visi tersebut, teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien.

    cropped-1200x1200 (5).jpg

    David Utama

    Presiden Direktur
    Siloam International Hospitals

    “AI memberikan manfaat terbesar ketika diintegrasikan ke dalam alur kerja klinis dan membantu mengurangi hambatan dalam pekerjaan sehari-hari tenaga kesehatan,” ujar David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals. “Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien. AI membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menghadirkan lebih banyak waktu untuk interaksi yang bermakna dengan pasien. Dalam visi tersebut, teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien. Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan.”

    Kesiapan layanan kesehatan harus mengimbangi laju adopsi AI

    Temuan FHI 2026 Indonesia menunjukkan tingginya permintaan akan AI di kalangan tenaga kesehatan Indonesia. Hampir dua pertiga (63%) mengatakan penggunaan alat berbasis AI yang disediakan oleh institusi mereka telah meningkat dalam setahun terakhir. Lebih dari separuh (57%) menggunakan AI generatif untuk membahas ide-ide terkait pekerjaan.

    Kepercayaan terhadap pimpinan juga relatif tinggi. Lebih dari tiga perempat tenaga kesehatan (77%) percaya bahwa pimpinan institusi mereka telah mengambil langkah yang tepat untuk menerapkan alat berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 59%.

    Namun, tenaga kesehatan tidak selalu mendapatkan alat dan dukungan yang mereka butuhkan di tempat kerja. Lebih dari separuhnya (58%) beralih ke alat AI pribadi ketika pilihan yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini dapat menimbulkan risiko apabila alat-alat tersebut belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang konsisten.

    Pelatihan masih menjadi kendala yang signifikan. Lebih dari separuh (55%) mengatakan pelatihan untuk alat berbasis AI sulit didapat, terbatas, atau tidak merata. Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan bukan hanya untuk mengoperasikan alat tersebut, tetapi juga untuk melindungi data pasien, memahami tanggung jawab hukum, dan memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.

    Pemantauan juga harus mengimbangi laju penerapan. Hampir dua pertiga (62%) mengatakan bahwa belum tersedianya proses yang jelas untuk memantau alat berbasis AI. Seiring dengan semakin melekatnya peran AI dalam layanan kesehatan, institusi kesehatan membutuhkan mekanisme yang jelas untuk validasi, audit, pelacakan, dan peninjauan berkala.

    Seiring langkah Indonesia dalam mempercepat digitalisasi rekam medis elektronik melalui ekosistem SATUSEHAT, peluangnya bukan sekadar menambahkan lebih banyak alat AI. Langkah berikutnya adalah memastikan AI yang tepercaya dapat terintegrasi dengan alur kerja klinis, data kesehatan, serta tata kelola yang jelas.

    Prof. Asnawi Abdullah menyampaikan paparan tentang transformasi kesehatan Indonesia dan AI yang bertanggung jawab.

    Keterangan foto: Prof. Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, M.Sc.HPPF, DLSHTM, Ph.D., Direktorat Jenderal Kebijakan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyampaikan paparan utama tentang transformasi kesehatan Indonesia dan peran AI yang bertanggung jawab dan berpusat pada manusia dalam mendukung hasil layanan kesehatan yang lebih baik.

    AI bertransformasi dari sekadar alat menjadi rekan kerja, dengan tenaga kesehatan tetap memegang kendali

    Tenaga kesehatan di Indonesia menyambut positif perubahan cara kerja dibawa oleh AI terhadap pekerjaan mereka. Lebih dari 9 dari 10 tenaga kesehatan (94%) mengatakan bahwa peran mereka saat ini sudah – atau akan segera – lebih fokus pada pekerjaan klinis yang bernilai lebih tinggi, sementara 83% percaya bahwa AI akan membantu mereka bekerja secara optimal dengan kemampuan profesional terbaik mereka.

    Seiring dengan peran AI yang mulai mengambil alih lebih banyak tugas administratif, memproses informasi, dan mendukung analisis klinis, tenaga kesehatan mulai melihat AI sebagai “rekan kerja”, dan bukan sekadar alat. Namun, mereka tetap memberikan batasan tegas terkait otonomi: 94% mengatakan bahwa keterlibatan manusia tetap sangat penting (human in the loop) seiring kemajuan AI, sementara 91% percaya bahwa semua hasil AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia.

    Untuk sebagian besar aplikasi klinis, kurang dari 1 dari 10 tenaga kesehatan merasa nyaman jika AI mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri. Sebaliknya, mereka memandang AI sebagai mitra yang dapat mendukung pengambilan keputusan, sementara akuntabilitas tetap berada di tangan tenaga kesehatan.

    Hubungan antarmanusia juga tetap menjadi inti layanan kesehatan. Sebanyak 9 dari 10 tenaga kesehatan (90%) mengatakan AI tidak akan pernah bisa menggantikan hubungan yang dibangun antara tenaga kesehatan dengan pasien, sementara 87% percaya bahwa keterampilan interpersonal justru akan menjadi semakin penting seiring kemajuan AI.

    Pasien juga mulai menjadi bagian dari tim layanan yang terus berkembang ini. Sebanyak 57% pasien menggunakan AI generatif untuk mencari informasi terkait kesehatan secara online. Meskipun dapat membantu pasien menjadi lebih terinformasi, alat ini juga dapat menimbulkan kebingungan: 80% tenaga kesehatan mengaku mereka pernah harus meluruskan misinformasi yang dihasilkan AI saat dibawa oleh pasien ke konsultasi.

    Karena itu, transparansi menjadi semakin penting. Sebanyak 9 dari 10 pasien Indonesia (91%) mengatakan bahwa mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka. Hal ini menegaskan perlunya komunikasi yang jelas, panduan klinis yang tepercaya, serta literasi AI yang lebih kuat di kalangan tenaga kesehatan dan pasien.

    Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang.

    cropped-1200x1200 (3).jpg

    Astri Ramayanti Dharmawan

    Presiden Direktur
    Philips Indonesia

    “Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan,” tutup Astri. “AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan. Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang.”

    Untuk informasi lebih lanjut dan mengunduh laporan lengkap Philips Future Health Index 2026 Indonesia, Penerapan AI: Membentuk masa depan layanan kesehatan saat ini, kunjungi https://www.philips.co.id/futurehealthindex-2026.

    Para pembicara dari pemerintah, sektor kesehatan, dan Philips di media briefing Future Health Index 2026 Indonesia.

    Keterangan foto: Dari kiri: Dr. drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, MH, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI); David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals; Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia; Prof. Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, M.Sc.HPPF, DLSHTM, Ph.D., Direktorat Jenderal Kebijakan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Eko Sulistijo, S.H., M.T., Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; dan Riris Dian Hardiani, SKM, MKM, Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA) adalah perusahaan teknologi kesehatan terkemuka yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi yang bermakna. Inovasi Philips yang berpusat pada pasien dan masyarakat memanfaatkan teknologi canggih serta wawasan klinis dan konsumen yang mendalam untuk menghadirkan solusi kesehatan personal bagi konsumen dan solusi kesehatan profesional bagi penyedia layanan kesehatan dan pasien mereka, baik di rumah sakit maupun di rumah.

    Berkantor pusat di Belanda, perusahaan ini merupakan pemimpin di bidang pencitraan diagnostik, ultrasound, terapi terpandu pencitraan, pemantauan, dan informatika perusahaan, serta kesehatan personal. Philips mencatat penjualan sebesar EUR 18 miliar pada tahun 2025 dan mempekerjakan sekitar 64.300 karyawan, dengan penjualan dan layanan di lebih dari 100 negara. Berita mengenai Philips dapat diakses di www.philips.com/newscenter.

    Aset media

    • Astri Ramayanti Dharmawan berbicara dalam diskusi panel FHI 2026 Indonesia tentang AI yang bertanggung jawab.

      Astri Ramayanti Dharmawan berbicara dalam diskusi panel FHI 2026 Indonesia tentang AI yang bertanggung jawab.

    • Astri Ramayanti Dharmawan memaparkan temuan FHI 2026 Indonesia tentang AI, kapasitas layanan, dan akses.

      Astri Ramayanti Dharmawan memaparkan temuan FHI 2026 Indonesia tentang AI, kapasitas layanan, dan akses.

    • Prof. Asnawi Abdullah menyampaikan paparan tentang transformasi kesehatan Indonesia dan AI yang bertanggung jawab.

      Prof. Asnawi Abdullah menyampaikan paparan tentang transformasi kesehatan Indonesia dan AI yang bertanggung jawab.

    • Para pembicara dari pemerintah, sektor kesehatan, dan Philips di media briefing Future Health Index 2026 Indonesia.

      Para pembicara dari pemerintah, sektor kesehatan, dan Philips di media briefing Future Health Index 2026 Indonesia.

    Kontak

    Yi Xian Tan profile

    Yi Xian Tan

    Communications and Brand Manager, ASEAN
    Detail kontak

    Bagikan halaman ini